Film Pesta Babi, film ini di sutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, semenjak film ini diputar secara masif di seluruh dunia, ada orang-orang yang senang menontonnya dan ada pula yang bermuka SEWOT setelah menontonnya, bahkan ada pula yang belum menontonnya tapi sudah seperti orang duduk diatas tungku, kepanasan pantatnya, orang seperti ini biasanya adalah orang yang hanya mendengar cerita dari orang yang baru saja menontonnya dan kebetulan orang yang menontonnya itu adalah "Antek-antek pemerintah atau antek-antek oligarki tempat dia menumpang hidup darinya", sehingga dia terprovokasi secara otomatis tanpa perlu repot-repot membeli data internet untuk menonton Film Pesta Babi.
Pada pembahasan kali ini kita tidak menguliti apa dan siapa yang dirugikan oleh film Pesta Babi itu, saya ingin membahas perspektif lain yang ditumbulkan oleh film dokumenter ini, perspektif itu adalah soal pangan itu sendiri, dimana muatan utama dari Film itu sendiri adalah persoalan pangan yang "dipaksakan" di tanah Papua pada setiap rezim berganti.
Persoalan pangan merupakan masalah pokok suatu komunitas, dan itu berlaku untuk semua komunitas suku yang ada di belahan dunia manapun di bumi ini, tidak saja bagi orang Papua, tapi bagi siapa saja yang masih membutuhkan makanan untuk menyambung hidupnya, konflik pangan selalu terjadi dari masa ke masa, bahkan konflik ini juga sering menimbulkan korban jiwa diantara mereka yang berkonflik.
Jauh sebelum nusantara mendeklarasikan dirinya menjadi negara Indonesia, nenek moyang orang Indonesia sudah mengenal beras sebagai makanan pendamping bukan sebagai makanan pokok, dan itu terjadi sekitar 3.500 tahun yang lalu, beras menjadi makanan pokok setelah terjadi interaksi yang intensif antara penduduk nusantara dengan orang-orang dari India dan China, dan tentu saja pada zaman itu sumber daya pangan mereka masih sangat melimpah jika dibandingkan sekarang ini.
Kita ambil contoh misalnya varietas padi, nusantara telah kehilangan 5000 hingga 9000 varietas padi di setiap daerah dari zaman nenek moyang dahulunya, sekarang kita mungkin tidak merasa kehilangan dari beragam varietas padi tersebut, tetapi kita sekarang mendapatkan efeknya dari kehilangan ribuan varietas tersebut, salah satunya adalah sifat ketergantungan kita terhadap beberapa varietas tertentu dari padi, beras yang kita makan saat ini merupakan hasil dari kerja keras petani selama 3 sampai 4 bulan bertanam padi, dengan menggunakan bermacam pupuk, racun pestisida, dan lainnya, semuanya itu menggunakan biaya yang cukup banyak yang terkadang tidak sebanding dengan hasil panennya.
Fakta dilapangan sering kita temukan jika petani tidak menanam varietas jenis A maka hasil panennya jauh berkurang, atau ketika si petani menanam varietas B maka hasil panen yang didpat cuma beberapa ratus kilo saja, dan semua aktifitas bercocok tanam itu mustilah mengeluarkan ongkos yang banyak, dari sini kita menyadari bahwa varietas padi yang dahulunya memiliki ketahanan terhadap berbagai serangan hama, sekarang sudah punah, entah itu dipunahkan dengan sengaja atau tidak sengaja, pada intinya dunia pertanian indonesia telah kehilangan banyak varietas padi yang tahan hama dan penyakit.
Indonesia pada masa Soeharto menjadi "Raja" pernah mencapai prestasi yang mengagumkan soal pangan, tahun 1984 indonesia pernah stop import beras, dan rakyat Indonesia tidak pernah mengeluh soal Harga beras selama Soeharto "Bertahta", tetapi sayangnya prestasi itu tidak diwariskan kepada "Raja-raja berikutnya".
Tahun 2025 lalu Prabowo (Presiden Indonesia saat artikel ini ditulis), pernah berpidato bahwa Indonesia sudah berhasil Swasembada pangan, ingat ya SWASEMBADA PANGAN, itu artinya segala hal yang biasa dijadikan pangan oleh rakyat Indonesia, bukan cuma beras saja, tapi pada realitanya dilapangan tetap saja ada beras import masuk ke Indonesia, dan agak sulit dipercaya pidato raja yang satu itu, sebab pada kenyataannya disetiap sudut Indonesia rakyatnya tetap saja kesusahan membeli beras yang harganya mahal, ikan yang harganya mahal, cabe yang harganya mahal, bawang merah yang harganya mahal, bawang putih yang harganya mahal, daging ayam yang harganya mahal, daging sapi yang harganyan mahal, kenyataannya tidak seindah apa yang keluar dari mulutnya.
Pada Film Pesta Babi dengan sangat "telanjang" sutradara menampilkan konflik antar rezim pemerintahan dengan rakyat Melanesia, mereka mengalami konflik ini sudah sangat lama, hutannya yang indah dipaksa untuk sesuatu yang disebut "Rencana pangan masa depan", silih berganti rezim tetapi persoalannya tidak tuntas, tetap saja rakyat Melanesia yang menjerit karena tanahnya dirampas, emasnya di rampas, dan mereka jauh dari yang namanya kesejahteraan meskipun berpuluh tahun emasnya dikeruk.
Benang merah apa yang bisa kita tarik dari sembrautnya persoalan pangan ini, cita-cita mulia (katanya) membuat lumbung padi agar rakyat tidak kelaparan seringkali tidak realistis dengan kanyataan, negara telah mengeluarkan banyak uang untuk mewujudkannya tetapi hingga sekarang kita tidak juga nendapati harga beras yang layak itu murah harganya, ini harus saya perjelas ya, "Beras yang layak" itu adalah, beras yang tidak berkutu dan berbau, sebagaimana yang sering dikeluhkan penerima bansos pada waktu-waktu tertentu di kantor kelurahan.
Para petani tidak lagi memiliki varietas padi yang tahan dari hama penyakit untuk bisa ditanam, saya pernah menemukan kasus di Aceh seorang petani dipenjara gara-gara dia membudidayakan varietas padi jenis tertentu, tentu saja kasus ini tidak pernah muncul di berita nasional, dan saya pernah menemukan seorang petani padi di Lampung yang selalu merasa was-was pada saat dia membudidayakan padi varietas tertentu juga, kedua kasus itu tentu saja bersangkut paut dengan persoalan pangan, yang saya curigai petani tidak boleh menanam padi varietas yang dia budidayakan sendiri.
Berlama-lama menyaksikan konflik agraria ini membuat kita juga pasrah, tidak bisa bersuara, dan akhirnya kita kehilangan empaty, maka lahirlah komentar-komentar tajam yang saling menyudutkan, dimana itu semua tidak akan membuat negara ini bisa menghasilkan produk pangan yang murah dan layak untuk rakyatnya, kau yang tidak suka dengan diputarnya film Pesta Babi juga tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap persoalan pangan ini, kau yang terkejut menyaksikan realita yang ditampilkan dalam film pesta babi, juga tidak berkontribusi apa-apa terhadap ketahanan pangan kedepannya.
Tapi ada satu hal yang sebaiknya tetap kita pelihara, yakni rasa kebangsaan, rasa saling memiliki terhadap negara ini, atas rasa itulah saya menuliskan artikel pendek ini, saya tidak ingin kehilangan sisi kemanusiaan saya ketika saudara Melanesia saya di ujung timur sana, tanahnya dirampas, emasnya diperas, dan itu dilakukan secara terstruktur dari rezim ke rezim atas satu kata "Ketahanan pangan nasional", berlindung dengan kalimat itu untuk memperkaya diri sendiri dan golongan, itu yang tidak bisa saya terima, bagaimana dengan anda yang membaca artikel ini, apakah kamu masih memiliki rasa kemanusiaan yang sama.


komentar
TerlamaTidak ada komentar:
Posting Komentar