Sebagaimana yang bisa kita cermati, beberapa waktu bekalangan ini semenjak tanggal 12 - 15 Juni 2026, telah terjadi aksi massa di beberapa titik wilayah di Indonesia, dalam aksi itu para demontrans memiliki beberapa tuntutan, salah satu diantaranya minta penurunan harga BBM, dan beberapa tuntutan yang lainnya, kali ini saya ingin menyoroti opini buzzer (yang pro kepada pemerintah), dimana telah disebar opini "Bahwasanya harga minyak yang naik itu bukan pertalite, tapi Pertamax dan beberapa jenis BBM yang lainnya, yang notabenenya adalah BBM non subsidi, mengapa yang demo rakyat pertalite ?".
Semenjak tahun 2023 saya melintasi Indonesia mulai dari Indonesia bagian timur hingga Indonesia bagian paling barat sana, catat ya semenjak tahun 2023, selama dalam perjalanan tersebut saya memantau segala kondisi negara "Konoha" itu, dan salah satunya persoalan BBM ini, dimana saya menemukan sebuah kesimpulan yang sangat kontras, kesimpulannya begini, Indonesia di bagian paling timur sangat susah mendapatkan BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Solar, semakin ke timur indonesia barang tersebut semakin susah diperoleh, hanya satu pulau saja yang tidak mengalami kelangkaan BBM bersubsidi yakni pulau JAWA, selain dari pulau jawa itu SUSAH mendapatkannya, bukan berarti tidak ada ya, tapi perlu di catat SUSAH MENDAPATKANNYA.
Dalam laporan pertamina barangkali tetap tertulis seperti ini, "Pasokan BBM bersubsidi lancar untuk setiap daerah", tapi faktanya di lapangan tidak demikian, jika ada diantara anda yang membaca tulisan ini dan anda seorang sopir yang melintas indonesia dari timur sampai ke barat, anda tentu mengalami apa yang saya tulis ini.
Selain di Pulau jawa BBM bersubsidi itu langka dan jika ingin mendapatkannya anda harus "Bertarung" terlebih dahulu dengan Mafia solar atau mafia pertalite setempat, kelangkaan BBM bersubsidi yang seperti ini tidak pernah di selesaikan oleh pemerintah, antrian kendaraan yang meng-ular sampai beberapa kilometer tidak pernah bisa dilihat oleh pemerintah, antrian itu hanya terlihat oleh rakyat jelata, bahkan aparat pemerintah cenderung bermain dalam lingkaran Mafia BBM bersubsidi ini, bagi rakyat yang lemah yang juga tetap membutuhkan BBM untuk kendaraannya, tidak punya pilihan lain selain membeli BBM non subsidi, seperti pertamax atau dexlite yang tentunya harganya sebelum ini masih rela dijangkau oleh rakyat jelata.
Nah, sekarang harga BBM jenis non subsidi ini dinaikkan, secara tidak langsung tentu saja berdampak kepada rakyat jelata di negara konoha itu, lalu para buzzer pemerintah menabur narasi sesat harga BBM yang dinaikkan bukan BBM yang disubsidi, tapi faktanya dilapangan mendapatkan BBM bersubsidi sama sulitnya dengan pergi naik haji reguler ke Makkah, antriannya panjaaaang sekali, nah kamu bisa bayangkan Buzzer di jakarta barangkali tidak kesulitan minum pertalite setiap hari, karena dia tidak tahu kesulitan 11,04 juta jiwa penduduk miskin indonesia lainnya dalam mengakses BBM bersubsidi yang berada di luar pulau jawa, sungguh Buzzer yang tidak cerdas, fuih.


komentar
TerlamaTidak ada komentar:
Posting Komentar