Summary Indonesia

Memandang Indonesia Dari Sudut Berita

Solusi Ketika Indonesia Diambang Kehancuran ?

[Space Iklan Di Bawah Judul Artikel]
0 x dibaca
Tadi malam saya mendapat notifikasi dari seseorang bahwa besok (15 Juni 2026), akan ada aksi massa di Jakarta, dimana aksi demo ini akan di ikuti oleh berbagai aliansi mahasiswa, masyarakat sipil, buruh dan bermacam komunitas lainnya, lalu dia menjelaskan beberapa tuntutan yang akan di usung dalam aksi massa tersebut, saya tidak tertarik sama sekali dengan notifikasinya, tetapi saya tertarik untuk membahasnya pada artikel saya kali ini.
 
Waktu itu saya hidup di desa, dan yang sedang berkuasa waktu itu adalah Soeharto, dari semenjak saya membuka mata di dunia yang fana ini, saya sudah mengenal Soeharto sampai tahun 1998 saya masih mengenal Soeharto, anda boleh tidak setuju, tetapi pointnya saya jelaskan sekarang, belum pernah pemerintahan Indonesia sebaik dan semakmur ketika Soeharto menjadi "Raja", kalau kau ingin membantah, silahkan bantah di kolom komentar.
 
Itu fakta pertama, sekarang mari kita bercerita tentang masa lalu, sebab masa depan masih belum terlihat hilalnya, ketika Soeharto berkuasa di desa saya menemukan jam kerja pegawai itu hanya sampai pukul 12.00 siang, catat ya pukul 12 siang, dan salah satu pegawainya waktu itu adalah orang tua saya sendiri, saya tidak tahu apakah di kota jam kerja pegawai juga sampai pukul 12 siang, kita tidak usah perdebatkan itu, sebab itu adalah cerita masa lalu, saya masih menemukan pegawai negeri yang kerjanya ke kebun sampai waktu Ashar, ini pegawai negeri aktif ya, bukan PNS dadakan atau ASN atau apa satu lagi namanya, Honorer ? Ya itu honorer atau sukarela.
 
Berbelanja di pasar semuanya serba murah, apalagi di desa, kita tidak usah membahas berapa nilai tukar rupiah dengan dollar waktu itu, yang jelas waktu itu harga barang di pasar MURAH, harga beras juga MURAH, sampai suatu saat saya melihat Soeharto dalam sebuah berita mengatakan INDONESIA SWASEMBADA PANGAN (yang sesungguhnya - bukan versi menteri pertanian), dan yang paling manis rasanya dari kenangan itu adalah ketika saya menemukan kompor minyak, Soeharto tidak pernah berusaha menipu rakyatnya dengan teknologi yang tidak masuk akal, meskipun waktu itu indonesia masih berstatus negara dengan sumber gas alam terbesar di dunia, mamak-mamak di perkampungan sangat nyaman memasak dengan kompor minyak.
 
Salah satu kebersyukuran saya mengenang semua itu adalah waktu itu BAHLIL belum menjadi menteri, kemudian kita mengenang lagi dibidang transportasi, hal yang tidak saya temukan setelah Soeharti di tumbangkan adalah, ongkos transportasi, saya masih mengalami sendiri ongkos angkutan yang sangat romantis, yakni "Anak sekolah", ketika saya membayar sewa angkuta dua ratus rupiah dengan kalimat lembut dan manja, "Anak seklah paman", dan paman sopir angkutan menerimanya dengan senyum lebar, coba sekarang kamu bayar ongkos angkuta dengan cara seperti itu, apa kira-kira yang terjadi?
 
Tidak bisa saya pungkiri ketika Soeharto masih menjadi "Raja" preman di terminal tetap ada, preman pasar juga tetap ada, tapi saya tidak pernah merasakan kengerian berjalan di malam hari, seperti kengerian setelah Soeharto di tumbangkan, sekarang dimana-mana saya selalu mendengar kabar orang-orang dibegal, orang-orang dirampok di pinggir jalan atau sedang menaiki kendaraan.
 
Sungguh jika saya tuliskan semuanya akan bertambah panjang artikel ini, namun pada intinya, Indonesia tidak pernah lebih baik semenjak Belanda hengkang kaki dari indonesia, masa demi masa terjadi kemerosotan, terutama setelah ada yang namanya Negara Indonesia, jika dahulu "Perampok" nusantara ini berkulit putih bersih, sekarang perampoknya putra daerah sendiri.
 
Solusi Ketika Indonesia Diambang Kehancuran ?

Lalu apa solusinya ? ketika Indonesia berada diambang kehancuran, tidak lain dan bukan adalah bertakwa kepada ALlah, bertauhid, dan menjalankan segala yang Allah perintahkan dan melaksanakan apa yang telah di Sunnahkan Nabi Muhammad, kita tidak akan lebih baik dari situasi apapun ketika Allah tidak memberikan pertolongan-Nya, Nabi kita sudah mewasiatkan dalam sebuah hadist yang membuat kita sedih membacanya, ini adalah hadist yang bisa kita pegang pada saat situasai sekarang ini hingga akhir zaman.
 
"Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (ia) seorang budak Habsyi.
 
Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, ia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah, dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat."
 
(H.R Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari al-‘Irbadh bin Sariyah).

Pembuat dan kontributor aktif situs berita terpercaya Summary Indonesia. Menulis analisis tajam seputar strategi finansial dan investasi digital.

komentar

Terlama
◎ Silakan memberikan kritik dan saran. Boleh sambil ngelink.
avatar Masukkan Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar